Gen Z menunjukkan sikap yang berbeda ketika membahas kepemilikan rumah. Ketertarikan mereka terhadap KPR terbentur banyak kendala dan situasi ekonomi yang tidak mendukung.
Pengamat properti Aleviery Akbar menjelaskan bahwa proses pengajuan KPR itu rumit dan panjang, membuat Gen Z tidak semangat untuk memiliki rumah sendiri. Bagi mereka, kebebasan dan fleksibilitas dalam memilih tempat tinggal lebih penting saat ini.
Dengan model kerja yang menawarkan fleksibilitas lebih, banyak dari mereka memilih untuk tinggal bersama orang tua atau di tempat sewaan. Dukungan finansial dari orang tua menjadi faktor penting dalam keputusan untuk membeli rumah.
Dalam pandangannya, Gen Z cenderung tidak terlalu tertarik pada rumah tapak di pinggiran kota. Mereka lebih memilih hunian vertikal yang mudah diakses, terutama yang dekat dengan transportasi umum.
Aleviery menambahkan bahwa tantangan untuk membeli rumah pertama semakin besar dengan adanya backlog perumahan yang masih tinggi, mencapai angka sekitar Rp12 juta. Ini menciptakan kesulitan tambahan bagi generasi muda.
Sementara itu, generasi milenial juga mengalami perubahan pandangan dalam isu kepemilikan rumah. Faktor-faktor ekonomi seperti biaya perumahan yang meningkat dan beban utang yang tinggi berkontribusi pada fenomena ini.
Perubahan Sikap Generasi Muda Terhadap Kepemilikan Properti
Dari sudut pandang sosial, ada pergeseran besar dalam bagaimana generasi muda memandang kepemilikan properti. Mereka lebih menghargai pengalaman dan gaya hidup ketimbang sekadar memiliki aset tetap.
Gen Z yang baru memasuki dunia kerja harus berhadapan dengan isu berbagai kemungkinan bias di pasar perumahan. Kebijakan dan regulasi yang tidak mendukung menambah tantangan bagi mereka untuk menabung dan mendapatkan KPR.
Faktor lain yang mempengaruhi adalah pola pikir yang berorientasi pada investasi jangka pendek. Mereka cenderung lebih memilih menginvestasikan uang dalam bentuk lain, seperti startup atau investasi digital, alih-alih terjebak dalam tanggung jawab hipotek yang besar.
Keinginan untuk memperoleh kebebasan finansial dan tidak terikat harus menjadi prioritas utama. Ini menjadi nilai yang sangat dihargai oleh generasi muda saat ini.
Selanjutnya, kehidupan sosial dan budaya mereka menunjukkan bahwa banyak dari mereka lebih memilih tempat tinggal yang mendukung gaya hidup mereka yang aktif dan dinamis. Interaksi dengan komunitas menjadi lebih penting daripada sekadar memiliki tempat tinggal.
Tantangan Ekonomi yang Dihadapi Generasi Muda
Kenaikan biaya hidup merupakan isu utama yang dihadapi oleh generasi muda, termasuk Gen Z dan milenial. Dengan gaji yang stagnan, menabung untuk uang muka KPR menjadi semakin sulit.
Selain itu, adanya utang pelajar dan kartu kredit menjadi beban tambahan yang membatasi kemampuan mereka untuk bertindak dalam hal kepemilikan rumah. Ini menciptakan siklus yang sulit untuk dipecahkan.
Gen Z mengalami ketidakpastian ekonomi yang terus-menerus berpengaruh pada pilihan hidup mereka. Perubahan kondisi pasar dan kebijakan fiskal menciptakan lingkungan yang tidak menentu bagi mereka yang ingin membeli rumah.
Lebih jauh, ketidakpastian ini menciptakan tekanan mental yang signifikan. Hal ini dapat memengaruhi keputusan mereka dalam memilih jalur karier dan perencanaan keuangan.
Generasi muda harus mampu beradaptasi dengan cepat agar dapat menghadapi tantangan ini. Hal ini memerlukan pengetahuan yang lebih baik mengenai perencanaan keuangan dan investasi yang cerdas.
Alternatif Tempat Tinggal yang Lebih Fleksibel
Dalam mencari tempat tinggal yang sesuai, Gen Z sering kali mempertimbangkan alternatif lain yang lebih fleksibel. Konsep co-living atau hunian bersama menjadi semakin populer di kalangan mereka.
Dengan model hunian ini, mereka bisa berbagi biaya sewa dan meminimalisir tanggung jawab menjaga properti. Ini memungkinkan mereka untuk fokus pada membangun karir dan relasi sosial.
Fasilitas yang disediakan dalam hunian bersama juga menjadi daya tarik tersendiri. Berbagai layanan tambahan seperti gym, area kerja bersama, atau komunitas acara dapat membuat hunian tersebut terasa lebih menarik.
Pola hidup ramah lingkungan juga semakin menjadi perhatian bagi generasi muda. Banyak dari mereka memilih lokasi yang mendukung gaya hidup berkelanjutan, seperti penggunaan transportasi umum atau bersepeda.
Inovasi dalam teknologi juga membantu mengubah cara mereka mencari tempat tinggal. Aplikasi dan platform daring memungkinkan akses mudah untuk menemukan hunian sesuai keinginan dan budget.
