Data center kini menjadi sorotan utama di seluruh dunia, dengan proyeksi pertumbuhan yang sangat signifikan hingga tahun 2030. Investasi sektor ini diperkirakan mencapai USD 3 triliun, seiring dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan.
Laporan terbaru mencatat sejak beberapa tahun terakhir, kebutuhan akan pengolahan data, penyimpanan, dan penggunaan teknologi semakin meningkat. Dengan pertumbuhan eksponensial ini, Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berpotensi menjadi pasar yang sangat berkembang dalam sektor data center.
Pertumbuhan yang luar biasa ini tidak hanya dipicu oleh kebutuhan teknologi terkini, tetapi juga oleh transformasi digital yang menjangkau berbagai sektor industri. Dalam skala global, diperkirakan kapasitas data center akan meningkat hampir dua kali lipat, dari 103 gigawatt (GW) saat ini menjadi sekitar 200 GW pada tahun 2030.
Dalam proses ekspansi ini, investasi yang diperlukan cukup besar. Diperkirakan lebih dari USD 3 triliun akan dialokasikan untuk meningkatkan infrastruktur, yang mencakup peningkatan nilai aset properti serta pembiayaan utang baru. Hal ini menandakan bahwa kita memasuki era supercycle dalam infrastruktur digital yang berbasis teknologi.
Meskipun pertumbuhan ini terlihat menjanjikan, para ahli menekankan bahwa fundamental pasar tetap sehat dan tidak mengarah pada risiko gelembung. Ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan investasi, struktur dan kebutuhan akan layanan data masih sangat relevan.
Aspek menarik dari transformación ini adalah lonjakan kebutuhan kecerdasan buatan atau AI. Teknologi ini bukan hanya menjadi alat, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam transformasi sektor data center ke depan. Hal ini membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam pertumbuhan pasar data center di Asia Tenggara.
Pertumbuhan Sektor Data Center Global yang Agresif dan Berkelanjutan
Di tingkat global, sektor data center menunjukkan pertumbuhan agresif, dengan proyeksi kenaikan kapasitas yang sangat signifikan. Ini menjadi perhatian utama bagi investor dan pengembang yang ingin ambil bagian dalam revolusi infrastruktur digital.
Tantangan dan kesempatan bersamaan muncul dalam bentuk peningkatan kebutuhan untuk pusat data yang lebih besar dan lebih efisien. Hal ini dipicu oleh pertumbuhan penggunaan AI yang mendominasi beban kerja di seluruh dunia, di mana pada tahun 2030, sekitar 50% kapasitas data center akan dialokasikan untuk penggunaan AI.
Menariknya, selama periode kritis ini, infrastruktur juga perlu beradaptasi dengan kebutuhan daya yang jauh lebih tinggi. Data center untuk pelatihan AI harus mampu menyediakan kepadatan daya hingga sepuluh kali lebih besar dibandingkan pusat data konvensional.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa pasar semikonduktor juga akan mengalami lonjakan yang signifikan berkat permintaan chip AI yang terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi dalam desain chip dan teknologi baru akan terus berkembang untuk mendukung efisiensi energi dan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan.
Dalam konteks ini, ada dorongan untuk menciptakan ekosistem yang tidak hanya fokus pada pusat data itu sendiri, tetapi juga pada infrastruktur pendukung yang lebih luas, seperti konektivitas internet dan pasokan energi. Kondisi ini membuat sektor data center menjadi salah satu bidang paling menarik untuk investasi di tahun-tahun mendatang.
Posisi Indonesia dalam Peta Pertumbuhan Data Center Asia Tenggara
Sejalan dengan tren global, Indonesia menunjukkan indikasi kuat sebagai pasar pertumbuhan data center. Proyeksi industri data center di Indonesia menunjukkan pertumbuhan sekitar 14% per tahun hingga tahun 2028, dipicu oleh semakin meningkatnya akses internet dan transformasi ekonomi digital.
Selain itu, laporan beberapa lembaga mengindikasikan permintaan untuk layanan data center di Indonesia dapat tumbuh hingga 16,8% per tahun. Hal ini menunjukkan fundamental yang kuat untuk pertumbuhan jangka panjang di sektor ini.
Investor kini semakin proaktif dalam mendiversifikasi portofolio mereka, dan sektor data center menjadi salah satu yang paling menarik. Dekatnya kawasan CBD Jakarta dengan pusat pertukaran internet menjadikannya lokasi strategis untuk pengembangan data center.
Kawasan lain, seperti Cikarang dan Karawang, telah berhasil menarik perhatian investor berkat infrastruktur yang memadai dan akses ke pasokan listrik yang mandiri. Begitu juga dengan Batam, yang mulai dipertimbangkan menjadi hub data center regional berkat konektivitas lintas negara yang baik.
Ketika semua potensi ini dijadikan satu, Indonesia tampak siap untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada dalam revolusi digital yang terus berkembang pesat.
Tantangan Energi dan Solusi untuk Pertumbuhan Data Center
Meskipun suasana pasar data center menunjukkan pertumbuhan yang kuat, tantangan ketersediaan energi tetap menjadi isu kunci. Waktu tunggu untuk koneksi listrik di pasar utama saat ini telah melampaui empat tahun.
Beberapa operator sedang mencari cara untuk mengatasi tantangan ini dengan mendanai sumber energi mereka sendiri atau menerapkan skema yang memungkinkan mereka untuk mengelola pasokan listrik secara mandiri. Ini menjadi langkah penting dalam menjaga kelangsungan operasi data center yang sangat bergantung pada pasokan energi yang stabil.
Strategi yang semakin penting adalah penggunaan sistem penyimpanan energi baterai dan integrasi energi terbarukan. Langkah ini akan menjadi pilar utama strategi energi data center global dalam mendukung pertumbuhan mereka menuju tahun 2030.
Di Indonesia, fokus pada ketersediaan listrik, air bersih, dan kesiapan talenta menjadi faktor penentu daya saing dalam menghadapi persaingan regional yang semakin ketat. Memastikan bahwa semua infrastruktur mendukung perkembangan data center menjadi sangat penting untuk mewujudkan potensi yang ada.
Dengan memadukan visi jangka panjang dan strategi inovatif, sektor data center di Indonesia berpotensi untuk mencapai ketinggian baru dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan ekonomi digital yang lebih luas.
Keterkaitan Pasar Modal dan Investasi dalam Data Center
Aktivitas pasar modal di sektor data center pun menunjukkan penguatan yang cukup signifikan. Sejak tahun 2020, nilai transaksi merger dan akuisisi di sektor ini telah mencapai lebih dari USD 300 miliar, mencerminkan minat tinggi terhadap aset ini.
Dihidupkannya core fund untuk data center pada tahun 2026 diperkirakan akan mencapai USD 50 miliar, dengan target imbal hasil minimal 10%. Ini menggambarkan apa yang banyak kalangan industri sebut sebagai kelas aset paling strategis pada dekade mendatang.
Pentingnya instrumen pembiayaan seperti ABS dan CMBS juga semakin terasa, yang dirancang untuk mendukung ekspansi sektor ini. Ini akan menegaskan lebih jauh posisi data center sebagai pilar penting dalam investasi properti masa depan.
Persaingan di dunia data center menunjukkan tidak hanya perlunya inovasi teknologi tetapi juga sebuah pemahaman yang mendalam mengenai kondisi pasar dan regulasi yang berlaku. Oleh karena itu, memantau dan sesuai dengan tren yang ada menjadi krusial bagi setiap pemangku kepentingan.
Dengan segala kemungkinan yang terbuka, sektor data center diharapkan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga siap menghadapi tantangan di masa mendatang dalam era digital yang penuh dinamika.
