Dalam sebuah pernyataan terbaru, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan bahwa transaksi ekonomi dan keuangan digital di Indonesia akan melonjak secara signifikan dalam waktu dekat. Proyeksi ini menunjukkan optimisme terhadap pertumbuhan sektor digital yang kian pesat, terutama di tengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi.
Perry memperkirakan bahwa volume transaksi yang saat ini mencapai sekitar 37 miliar per tahun akan meningkat menjadi 147 miliar transaksi pada tahun 2030. Hal ini mencerminkan transformasi besar dalam cara orang berinteraksi dengan layanan keuangan di era digital ini.
Dalam acara yang diadakan di Jakarta, Perry menyebutkan, “Kami perkirakan yang sekarang EKD, ekonomi keuangan digital, volume transaksinya 37 miliar transaksi akan naik 4 kali lipat.” Proyeksi ini bukanlah angka sembarangan, melainkan berdasarkan analisis tren pertumbuhan yang berkelanjutan dalam ekosistem digital Indonesia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa nilai transaksi juga diprediksi akan meningkat drastis. Dari sekitar Rp 500 triliun, angka ini dapat melonjak menjadi lebih dari Rp 2.000 triliun, mencerminkan potensi besar yang ada di sektor ini.
Perry menekankan bahwa, “Nilainya tinggal dikalikan 4 kali lipat,” menunjukkan keyakinan pada kemampuan sektor digital untuk beradaptasi dan berkembang. Kesuksesan ini adalah hasil dari inovasi dan komitmen berbagai pihak dalam memajukan ekonomi digital.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Digital sampai 2030
Dalam pandangannya, proyeksi yang optimis ini menunjukkan bahwa Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi digital tercepat di dunia. Komitmen untuk memperluas akses dan memberikan infrastruktur yang solid menjadi kunci untuk mencapai tujuan tersebut.
Perry juga mencatat bahwa kecepatan adaptasi masyarakat terhadap teknologi digital telah berdampak positif. Masyarakat kini semakin terbuka terhadap berbagai bentuk pembayaran digital, seperti QRIS dan sistem pembayaran cepat dari BI.
Perubahan menuju ekonomi digital bukan hanya mencakup sektor bisnis, tetapi juga mengubah cara individu dan komunitas mengelola keuangan sehari-hari. Ini memberi peluang bagi usaha kecil dan menengah untuk lebih bersaing dan bertumbuh.
Dengan peningkatan aksesibilitas internet dan perangkat teknologi, lebih banyak orang di daerah terpencil kini dapat terlibat dalam ekonomi digital. Hal ini secara langsung akan berkontribusi pada peningkatan volume transaksi di seluruh Indonesia.
Infrastruktur Digital: Kunci Keberhasilan Transaksi
Perry menegaskan pentingnya infrastruktur yang kuat sebagai fondasi untuk pertumbuhan ekonomi digital. Keberhasilan implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia yang diluncurkan sejak 2019 menjadi salah satu contoh konkret pencapaian dalam hal ini.
Inisiatif tersebut fokus pada pembangunan sistem pembayaran yang terintegrasi dan efisien, yang memungkinkan lebih banyak orang untuk mengakses layanan keuangan. Kehadiran sistem ini diharapkan dapat memberikan kemudahan dan kecepatan dalam melakukan transaksi.
Sebagai bagian dari upaya ini, teknologi QRIS dan BI Fast menjadi pionir dalam mempercepat proses digitalisasi transaksi. Sistem ini memungkinkan pengguna untuk melakukan pembayaran secara instan, mengurangi waktu tunggu dan meningkatkan efisiensi transaksi.
Keberhasilan dalam implementasi infrastruktur pembayaran juga memberikan dampak positif pada kepercayaan masyarakat terhadap transaksi digital. Dengan sistem yang andal dan aman, orang-orang menjadi lebih berani untuk melakukan transaksi secara online.
Visi 2030: Membangun Masa Depan Ekonomi Digital yang Berkelanjutan
Dalam kesehariannya, Perry selalu mengingatkan pentingnya visi yang jelas untuk mencapai target ekonomi digital ini. “Ini adalah masa depan Indonesia. Visioning 2030,” ujarnya. Visi ini bukan sekadar angka, tetapi sebuah cita-cita untuk memajukan kesejahteraan masyarakat.
Perry percaya bahwa dengan kerja sama antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga sektor swasta, cita-cita ini dapat terwujud. Pelibatan semua elemen masyarakat akan menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem yang inklusif dan berkelanjutan.
Kedepannya, Bank Indonesia akan terus berupaya untuk mendukung berbagai inisiatif yang memacu pertumbuhan ekonomi digital. Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan transaksi, tetapi juga mendorong inovasi yang lebih luas di sektor ini.
Dalam perjalanan menuju 2030, tantangan tentu akan muncul. Namun, keyakinan terhadap potensi dan kemampuan masyarakat Indonesia untuk beradaptasi dan berkembang menjadi motivasi untuk terus maju.
