Generasi muda saat ini semakin mendominasi pencarian hunian, dengan laporan terbaru mengungkap bahwa 63,5% dari mereka yang mencari rumah adalah berasal dari kelompok usia produktif. Data ini menunjukkan bahwa kelompok ini tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga menggerakkan dinamika pasar properti dengan pendekatan yang lebih rasional dan berdasarkan kebutuhan hidup. Dengan adanya perubahan ini, pasar perumahan juga mengalami transformasi dalam cara pencarian dan preferensi hunian.
Pencarian hunian di kalangan generasi muda meliputi berbagai fase kehidupan, mulai dari pembentukan aset hingga pengelolaan keuangan. Hal ini mempertegas bahwa proses mencari rumah kini menjadi langkah yang lebih terencana, bukan sekadar impulsif. Laporan yang berjudul “The Youth Move” ini menganalisis perilaku pencarian hunian oleh generasi muda di Indonesia selama satu tahun terakhir.
Dengan berfokus pada pola dan preferensi generasi muda, temuan ini menunjukkan bahwa pencarian rumah semakin terarah dan strategis. Ini membuktikan bahwa keputusan untuk membeli rumah kini adalah hasil dari eksplorasi jangka panjang yang memperhatikan kebutuhan masa depan, bukan sekadar untuk memenuhi ekspektasi sosial.
Peran Generasi Muda dalam Pencarian Hunian di Pasar Properti
Sepanjang tahun 2025, terlihat bahwa pencarian hunian di platform mencari rumah didominasi oleh kelompok usia antara 18 hingga 44 tahun. Rincian menunjukkan bahwa usia 18–24 tahun berkontribusi sebesar 19,9%, sementara usia 25–34 tahun mencapai 25,6%. Angka ini semakin menguatkan dominasi generasi muda dalam pasar pencarian hunian.
Dari total pencarian, 63,5% berasal dari generasi Z dan young millennial. Meski pencarian menonjol, hal ini tidak serta-merta mencerminkan kesiapan untuk membeli rumah, namun lebih menunjukkan bahwa mereka masih dalam tahap eksplorasi. Pencarian ini lebih ke arah memahami pilihan hidup dan keadaan finansial mereka.
Berbeda dengan cara pandang lama yang memandang keputusan untuk membeli rumah sebagai sebuah pencapaian, generasi muda kini melihat rumah sebagai keputusan jangka panjang sesuai dengan fase hidup mereka. Ini menunjukkan bahwa pendekatan terhadap properti tidak lagi bersifat impulsif, melainkan lebih reflektif dan strategis.
Pola Pencarian Hunian Berdasarkan Rentang Usia
Khusus untuk kelompok usia 18–24 tahun, pencarian hunian cenderung berkisar pada unit rumah berukuran kecil di bawah 90 meter persegi. Mereka menunjukkan ketertarikan di rentang harga entry-level serta lokasi yang strategis dengan akses transportasi yang baik. Ini mencerminkan bahwa kebutuhan mereka masih pada tahap eksplorasi.
Generasi Z, dengan fokus pada pencarian yang lebih mengedepankan pengetahuan, cenderung membandingkan berbagai aspek seperti harga dan lokasi sebelum mengambil keputusan pembelian. Kedua faktor ini menjadi kunci dalam membangun pemahaman finansial mereka. Sebaliknya, kelompok usia 25–44 tahun menunjukkan bahwa pendekatan mereka lebih fokus dan terstruktur.
Pencarian hunian oleh young millennial mengarah pada hunian yang lebih besar, antara 91–150 meter persegi, serta memilih rumah tapak sebagai pilihan utama. Mereka cenderung melihat hunian sebagai tempat tinggal jangka panjang dan juga sebagai aset berharga untuk masa depan.
Preferensi Ukuran Hunian yang Diminati oleh Generasi Muda
Data menunjukkan bahwa mayoritas pencarian hunian terfokus pada ukuran kecil hingga menengah. Hunian dengan luas hingga 60 meter persegi mencatat 22,9% dari total pencarian, dengan estimasi harga sekitar Rp545,6 juta. Sementara itu, ukuran 61–90 meter persegi menyumbang 16,1% dengan harga sekitar Rp988,7 juta.
Hunian dengan luas 91–150 meter persegi juga banyak dicari, mencapai 23,4% dengan kisaran harga Rp1,58 miliar. Secara keseluruhan, 62,4% pencarian hunian berfokus pada ukuran di bawah 150 meter persegi, mencerminkan perubahan pola pikir generasi muda dalam menentukan pilihan tempat tinggal.
Generasi muda kini tidak lagi melihat rumah besar sebagai simbol keberhasilan, melainkan memilih hunian yang lebih fungsional dan sesuai dengan kapasitas finansial mereka. Konsep hunian “cukup” menjadi prioritas, yakni cukup untuk kebutuhan saat ini dan cukup fleksibel untuk menghadapi perubahan di masa mendatang.
Kriteria Lokasi Hunian yang Utama Bagi Generasi Muda
Mengenai pemilihan lokasi, wilayah dengan minat pencarian tertinggi antara lain Tangerang (13,9%), Jakarta Selatan (11,4%), dan Bandung (7,9%). Ini menunjukkan bahwa Generasi Z dan young millennial memiliki pola yang serupa dalam memilih wilayah hunian. Kemudahan akses dan waktu tempuh kini menjadi faktor utama dalam menentukan lokasi, menggantikan paradigma lama yang lebih mengutamakan pusat kota.
Pemikiran ini menunjukkan bahwa generasi muda semakin pragmatis dalam memilih tempat tinggal, yakni menyesuaikannya dengan kebutuhan produktivitas dan kualitas hidup sehari-hari mereka. Ini menandakan pergeseran nilai dalam hal penempatan lokasi yang semakin cerdas.
Melihat bagaimana generasi muda menentukan lokasi hunian, jelas bahwa mereka semakin selektif dan berdasarkan pada pertimbangan praktis yang mendukung mobilitas mereka. Dengan demikian, hal ini bisa menjadi acuan bagi pengembang dalam menentukan lokasi proyek perumahan di masa depan.
Perbedaan Preferensi Antara Apartemen dan Rumah Tapak di Kalangan Masyarakat
Selain ukuran dan lokasi, laporan ini juga menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam preferensi antara apartemen dan rumah tapak. Pencarian untuk apartemen kebanyakan berorientasi sewa, mencapai 71,6%, sementara 28,4% bertujuan untuk membeli. Ini berbanding tebal dengan preferensi untuk rumah tapak yang hampir seimbang antara sewa dan beli.
Perbedaan ini menggambarkan bagaimana generasi muda memandang apartemen sebagai opsi fleksibel untuk hunian sementara, sementara rumah tapak dianggap sebagai aset yang lebih stabil untuk jangka panjang. Keputusan ini tidak hanya didasari oleh keinginan tetapi juga berorientasi pada tujuan finansial yang lebih bijak.
Pemahaman ini memperjelas bahwa hunian tidak lagi dilihat sebagai keputusan tunggal seumur hidup, melainkan lebih sebagai alternatif yang disesuaikan dengan setiap fase kehidupan. Generasi muda semakin mampu mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan mereka yang dinamis.
Membaca Arah Pasar Properti di Tahun Mendatang
Laporan ini memberikan gambaran jelas tentang arah pasar properti di Indonesia menuju tahun 2026. Dengan memperlihatkan perspektif generasi muda, data ini memberikan wawasan berharga bagi para pelaku industri, pengembang, dan konsumen dalam merespons perubahan di pasar.
Melalui pemahaman ini, diharapkan bahwa semua pemangku kepentingan dapat beradaptasi dan mengambil keputusan yang lebih berkelanjutan. Karena itu, informasi dan analisis ini sangat penting untuk dipertimbangkan dalam setiap langkah yang akan diambil di pasar properti di masa mendatang.
Secara keseluruhan, laporan ini bukan hanya sekadar rangkuman data, tetapi juga refleksi atas perubahan yang terjadi dalam pola pikir generasi muda terkait dengan hunian. Ini menjadi salah satu referensi awal yang krusial dalam mendalami dinamika pasar properti ke depan.
