Ketika berbicara tentang pencarian hunian, peran perempuan, khususnya ibu, semakin mengemuka dalam menentukan pilihan tempat tinggal bagi keluarga. Data terbaru menunjukkan bahwa sebanyak 52,4% pencarian properti dilakukan oleh perempuan, sekali lagi menegaskan pentingnya perspektif keibuan dalam keputusan ini.
Dalam konteks ini, pertimbangan para ibu tidak hanya terbatas pada harga dan lokasi, tetapi juga kualitas hidup jangka panjang yang mereka pertimbangkan dengan matang. Hal ini mencirikan perubahan signifikan dalam pola pikir dan prioritas keluarga Indonesia.
Dengan meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya lingkungan yang aman dan nyaman, para ibu kini berperan layaknya “Chief Housing Officer” dalam keluarga. Mereka aktif dalam menilai dan memvalidasi apakah hunian tersebut benar-benar sesuai untuk tinggal dalam waktu yang lama.
Berbagai faktor seperti keamanan lingkungan dan akses ke fasilitas pendidikan telah menjadi prioritas dalam pencarian properti saat ini. Tidak mengherankan jika banyak ibu yang sangat teliti dalam memilih lokasi yang tepat untuk keluarga mereka.
Pentingnya Keamanan dan Akses Sekolah dalam Pencarian Properti
Sepanjang tahun 2025, pencarian untuk properti dengan fokus pada “keamanan lingkungan” mengalami lonjakan yang signifikan dengan lebih dari 360 ribu pencarian tercatat. Ini menunjukkan bahwa masalah keamanan menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan oleh para ibu.
Selain itu, kata kunci “dekat sekolah” juga mengalami pertumbuhan yang cukup positif, meningkat sebesar 34,6% dibanding tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa akses ke pendidikan yang baik adalah prioritas bagi banyak keluarga.
Tidak hanya itu, pencarian terkait fasilitas kesehatan juga tercatat lebih dari 58 ribu pencarian. Semua ini menunjukkan bahwa ibu-ibu modern sangat memperhatikan aspek non-finansial dalam pemilihan hunian mereka.
Dengan demikian, rumah bagi keluarga kini lebih dipandang sebagai ruang hidup, bukan hanya sekadar tempat tinggal. Keberadaan ruang yang aman dan nyaman sangat penting untuk pertumbuhan anak dan interaksi sehari-hari dalam lingkungan keluarga.
Peran Aktif Perempuan dalam Memilih Hunian
Data terbaru menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan dalam pencarian properti, dengan perempuan berkontribusi sebesar 52,4% dari total pencarian. Hal ini menandakan adanya pergeseran yang jelas dalam keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan.
Perempuan sekarang lebih aktif dalam menilai berbagai faktor krusial yang berkaitan dengan hunian, seperti lingkungan sekitar, aksesibilitas ke fasilitas publik, dan ruang yang nyaman untuk kehidupan sehari-hari. Keterlibatan ini menjadi semakin penting di tengah era digitalisasi.
Dari sisi jenis properti, rumah tapak masih menjadi pilihan utama keluarga, memberikan kontribusi 60,3% dari total pencarian. Permintaan akan properti dijual dan disewa juga cukup seimbang, masing-masing mencapai 50,1% dan 49,9% di sepanjang tahun 2025.
Kondisi ini mencerminkan fleksibilitas keluarga dalam menentukan pilihan hunian berdasarkan kebutuhan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Kualitas hidup menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan yang diambil.
Pergeseran Paradigma dalam Pengambilan Keputusan Hunian oleh Keluarga
Menanggapi perubahan ini, kepala riset mengungkapkan bahwa pergeseran ini mencerminkan cara baru dalam pengambilan keputusan hunian oleh keluarga Indonesia. Perempuan kini melihat hunian tidak sebagai aset semata, melainkan sebagai tempat untuk menciptakan kenangan dan kehidupan yang berkualitas.
Aspek seperti keamanan, akses pendidikan, dan kenyamanan ruang menjadi pertimbangan utama dalam memilih rumah. Menurut temuan ini, keputusan hunian sering kali diambil berdasarkan pertimbangan mendalam dari perspektif ibu.
Pentingnya pemahaman ibu terhadap kebutuhan seluruh anggota keluarga adalah faktor utama yang sering kali menjadi penentu akhir. Hal ini menegaskan bahwa peran para ibu dalam proses pencarian rumah sangat krusial.
Dalam banyak keadaan, keputusan untuk membeli atau menyewa hunian baru dapat diambil hanya setelah semua faktor telah dipertimbangkan dengan cermat. Dengan kata lain, pasar properti Indonesia semakin dipengaruhi oleh nilai-nilai yang lebih humanis dan berkualitas.
Peran ibu sebagai “Chief Housing Officer” kini dianggap sangat strategis dalam menentukan arah permintaan hunian di Indonesia. Keluarga tidak lagi sekadar beralih bertindak sebagai konsumen, melainkan sebagai individu yang lebih peka terhadap nilai sosial dan pengalaman hidup.
Tren ini harus diperhatikan oleh pelaku industri properti, agar mereka mampu menyajikan produk hunian yang sesuai dengan kebutuhan keluarga modern saat ini. Penawaran yang relevan dengan kualitas hidup adalah kunci untuk meraih perhatian pasar yang terus berkembang.
Secara keseluruhan, perubahan ini menandai titik balik dalam paradigma pencarian properti di Indonesia, di mana kebutuhan keluarga dan rasa aman menjadi prioritas utama. Ide dasar bahwa rumah adalah tempat untuk membangun kehidupan yang berkualitas akan terus menjadi panduan di masa depan.
